Sabtu, 18 Februari 2012

Sejarah Permusuhan Manchester United vs Liverpool


Dua klub ini udah berseteru sejak lama gan kalo klub klub macem chelsea,man.city,arsenal,totenham,itu sih klub yang masih seumur jagung,dan baru mengukir sejarah di persepakbolaan inggris , agan masih inget kisah fernando torres ?
torres udah ngerengek-rengek minta dijual ke MU,tapi management Liverpool lebih milih ngejual torres ke Chelsea,padahal waktu itu Chelsea cukup jadi pesaing berat the reds




sebelum kita bahas rivalitas MU-Liverpool,kita bahas dulu awal mulanya MU dan Liverpool berdiri,cekidott..
MU dibentuk pada tahun 1878 dengan nama Newton Heath Lancashire and Yorkshire Railway Football Club (Newton Heath LYR F.C.) oleh para pekerja rel kereta api di Newton Heath,tapi berganti nama jadi Manchester United karena beralih kepemilikan,dan mempunyai julukan THE RED DEVIL
Sementara sang rival The Reds ini berdiri pada 15 Maret 1892, didirikan oleh John Houlding. John Holding mendirikan Liverpool F.C. karena berselisih dengan klub sepakbola Everton F.C. yang ketika itu menyewa lapangan Anfield milik John Houlding.Liverpool terkenal dengan slogan nya yang keren dan says suka yaitu You'll never walk alone
Gesekan mulai terjadi saat Manchester yg hanya berjarak 50 km dari kota Liverpool membangun sebuah kanal/terusan Manchester Ship Canal pada tahun 1894 yg membuat kapal-kapal perdagangan dapat potong kompas tanpa melewati kota Liverpool. Hal ini membuat perekonomian kota Liverpool yg terkenal dgn kota pelabuhan perlahan lesu. Sejatinya Manchester adalah kota industri terutama kapas dan tekstil
Pertemuan kedua kubu biasa disebut "North West Derby". Setiap pertemuan selalu menghadirkan atmosfer yg panas karena hanya kedua klub Inggris inilah yg bersaing ketat dalam koleksi gelar prestisius di tanah Inggris dan Eropa.. Gesekan semakin meluas ke dunia olahraga terutama sepakbola, bukan cuman di dunia sepakbola aja gan di dunia musik juga MU ama Liverpool bersaing, dimana Liverpool memiliki The Beatles, band yng fenomenal yg mampu menempatkan puluhan single di tangga-tangga lagu dunia. Selain The Beatles, Liverpool memiliki band-band top lainnya seperti Gary and The Peacemakers dan Lightning Sheeds. Sedangkan kota Manchester diwakili oleh Stone Roses, New Order, The Smiths, Oasis, dan Simply Red. Namun tidak semua band yg berasal dari Manchester adalah penggemar Manchester United karena pentolan Oasis yaitu Liam dan Noel Gallagher adalah fans Manchester City yg kebenciaannya terhadap Manchester United dituangkan dalam lagu "Who's a Fuck are Man Utd ?" ,dan saat MU dibantai City 6 – 1,Noel nunjukin 6 jarinya ke media,buat nyindir temen – temenya,dan keluarganya, yang sebagian banyak manchunian ..
Pertandingan pertama United vs Liverpool di stadion Old Traford pada tanggal 19 februari 1910 berakhir petaka bagi United karna pertandingan itu harus dimenangkan oleh Liverpool dgn skor 4-3. setelah itu United mengalami masa sulit trophy karena harus puasa selama 41 tahun tanpa sebuah trophy pun.
Liverpool mengalami masa kejayaan pada era 70 dan 80 di tangan pelatih legendaris Bill Shankly yg kemudian diteruskan oleh Bob Paisley, Joe Fagan, dan Kenny Dalglish. Torehan 18 gelar Liga Inggris dan 5 gelar Liga Champion Eropa belum mampu dilewati oleh klub manapun di Inggris. Manchester United memulai kejayaan pada era 90 hingga kini di tangan pelatih Sir Alex Ferguson memiliki 18 gelar Liga Inggris dan 3 gelar Liga Champions Eropa. Namun utk gelar FA Cup, Manchester United masih unggul dgn koleksi 11 berbanding 7. Kepindahan Michael Owen ke Manchester United semakin menambah runcing perseteruan.
Tetapi diluar lapangan terjalin hubungan yg baik antara kedua klub. Sir Matt Busby pelatih Manchester United terdahulu adalah mantan pemain Liverpool (1933-1939) dan merupakan sahabat karib Bill Shankly. Saat Gerrard Houllier mengalami serangan jantung di tahun 2001, Sir Alex Ferguson lah pelatih pertama yg menjenguknya di Rumah Sakit.
Kayaknya perseteruan kedua klub ga akan pernah mati oleh zaman ya gan???

Kamis, 16 Februari 2012

sejarah Stadion Maguwoharjo (Pss Sleman)

Stadion Maguwoharjo dibangun oleh Pemerintah Kabupaten Sleman sebagai alternatif pengganti Stadion Tridadi yang merupakan homebase PSS Sleman dalam beberapa musim kompetisi. Animo masyarakat Sleman yang besar, terutama slemania, dalam mendukung PSS setiap kali berlaga di kandang membuat kapasitas di Stadion Tridadi sudah tidak mampu menampung penonton.
Dalam kurun waktu tahun 2004 hingga 2006 dibangunlah sebuah stadion yang memiliki standar internasional. Keputusan ini diambil setelah mempertimbangkan ketidaklayaan stadion Tridadi untuk menjamu tim-tim besar Liga Indonesia.
Stadion yang dibangun di Desa Maguwoharjo ini resmi bisa digunakan sebagai kandang PSS Sleman dalam mengikuti kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2007. Dengan memiliki daya tampung hingga 35.000 penonton membuat stadion Maguwoharjo mampu menampung seluruh penonton yang menyaksikan tim kesayangan mereka, PSS Sleman saat bertanding, bahkan juga bisa menampung hingga 10.000 suporter tamu yang datang.
Stadion yang memiliki nama resmi Maguwoharjo International Stadium (MIS) ini dianggap sebagai salah satu stadion terbaik di Indonesia selain Stadion Gelora Bung Karno di Jakarta, Stadion Jakabaring di Palembang, dan Stadion Jalak Harupat di Kabupaten Bandung. Bahkan, Stadion Maguwoharjo pernah digunakan oleh tim nasional Indonesia dalam melakukan pertandingan ujicoba

JEJAK ANAK-ANAK DALAM KELOMPOK SUPORTER

“Pokoke nek aku ketemu uwong sing nganggo kaos ijo(slemania) meh tak bandem… “, kata itu terucap begitu saja dari mulut seorang anak kecil disebuah kampung di kecamatan Wirobrajan Yogyakarta. Barangkali umurnya tidak lebih dari 15 tahun, perkiraan saya sekitar 11 tahun. Anak itu masih ABG, tidak juga, bagiku itu masih anak-anak. Saya pikir dia belum terlalu lama dipisahkan dari air susu ibunya. Saya melihatnya sekali lagi, kelihatan cukup emosional, marah, namun satu hal yang tidak bisa disingkirkan bergitu saja dari raut wajahnya, innocent, ala anak-anak.

Satu diantara dua temannya, umurnya sebaya, menimpali. “Opo awak dewe gawe plinteng wae, ben iso cepet mlayu, ujarnya”. Aku tersenyum melihat tingkah polahnya. Mereka bertiga malu-malu setelah tahu jika aku memperhatikanya. Tak lama setelah itu anak-anak itu lagi-lagi berbisik, “ono cah slemania” sambil menunjuk-nunjuk motor yang aku pake siang itu. Maklum di motor yang aku pakai terdapat tas kecil bungkus kaos bertuliskan “I Love (tanda jantung hati) PSS” berwarna hijau yang aku beli beberapa waktu yang lalu dari salah satu teman slemania cyber. Tas itu sudah berganti fungsi sebagai tempat air minum anakku, atas ide anaku sendiri yang masih berumur 4 tahun.

Obrolan anak-anak itu mengingatkan masa kecilku dulu, sejak SMP aku tak pernah lepas dari sepakbola, tentu PSIM yang aku lihat waktu itu. Kebetulan saya lahir dan besar di sebuah kampung bagian selatan kota Yogyakarta, cukup 20 menit bersepeda menuju stadion Mandala Krida. Waktu itu belum ada Brajamusti, yang ada PTLM (Paguyuban Tresno Laskar Mataram) sebagai kelompok supporter satu-satunya di Yogyakarta. Agak mirip dengan obrolan anak-anak diatas, saya dan teman-teman merasa bangga jika berhasil meloloskan batu dan kelereng sebagai “amunisi” ketika kesebelasan lawan mengungguli PSIM atau wasit yang saya pandang berat sebelah, hanya sekedar itu, tidak lebih.

***
Petang itu, menjelang maghrib, derby antara PSS vs PSIM telah usai. Saya pulang melewati depan perumahan mewah di Kecamatan Depok Sleman. Sesuai aturan saya masuk melalui jalur lambat, jalur khusus sepeda motor. Di depan perumahan itu sangat ramai dengan banyak orang, info yang saya dapat baru saja ada dua orang berbaju Slemania dihadang dan dipukuli rombongan Brajamusti yang baru saja pulang dari stadion Maguwoharjo Sleman. Karena jalan macet, saya menghentikan sepeda motor. Parkir sejenak sambil memperhatikan situasi sekitar. Sekitar 5 meter didepanku, saya melihat rombongan 7 anak kecil dengan menggunakan sepeda onthel lengkap dengan atribut hijau Slemania. Tak ketinggalan bendera kecil yang ditautkan di bagian belakang sepedanya.

Rombongan anak kecil itu berkumpul dan mengelilingi satu diantara 7 orang tersebut. Terlihat satu anak itu menangis. Saya dekati, “ngopo je le?”, tanyaku penuh selidik. “niki lho pak, nangis soale wedi kalihan tiyang Brajamusti”, jawab salah satu anak. “wau wonten tiyang Slemania diantemi”, timpal yang lainya. “Trus niki nggih sedoyo ajrih ajeng wangsul teng griyo”, anak ketiga menyambung. “lha omahmu ngendi”, tanyaku. “niki sak rencang griyane teng Moyudan”, jawab mereka serempak. Saya berpikir anak-anak ini bener-bener militan, dari Moyudan bersepeda, hujan lagi.

Saya sarankan ke mereka, segera copot atribut kalau memang takut. Tak lama ketujuh anak-anak ini segera mencopot baju, bendera dan syal mereka dan ditaruh di sebuah tas kresek hitam. Dengan telanjang dada, mereka pamit ke aku. “pak matur nuwun nggih, kulo sak rencang ajeng wangsul teng Moyudan, mboten nopo2 mangkeh nek masuk angin, niki pun resiko slemania sejati pak, nuwun nggihhh…”, ujar salah satu anak. Saya terhenyak, tak habis pikir, ternyata sepak bola benar-benar bahasa universal.

Dua kasus ini begitu mengejutkan, minimal bagiku. Anak-anak telah menjawab sebuah perlawanan, tidak dalam konotasi negative. Perlawanan merupakan simbol keberanian ataupun simbol menghadapi situasi sekitar untuk kemudian menentukan sebuah sikap yang akan dilakukan. Semoga saya tidak salah menentukan pilihan kata. Bisa juga anak-anak tersebut, dengan kapasitas masing-masing, telah menunjukkan sebuah militansi. Militansi yang sering didengungkan oleh kelompok-kelopok supporter di Indonesia hingga saat ini.

Militansi, dalam kamus besar bahasa Indonesia kurang lebih mempunyai arti ketangguhan dalam berjuang menghadapi kesulitan atau berperang. Bersemangat tinggi, penuh gairah dan berhaluan keras. Militansi tidak ditawar-tawar lagi, ini sebuah resiko perjuangan yang harus dihadapi baik secara individu maupun kelompok. Militansi tidak berdiri sendiri, harus ada obyek, subyek dan predikat. Militansi adalah produk dari sebuah obyek yang berlawanan. Dalam sepakbola, apalagi derby telah memunculkan api-api militansi di kedua belah pihak.

Perseteruan kelompok supporter PSS dan PSIM, menurut catatan saya sudah sejak tahun 2004 telah memunculkan miltansi di kedua belah pihak, baik itu Slemania dan Brajamusti. Namun karena sepakbola merupakan bahasa universal, anak-anak pun ikut terlibat dalam konsep militansi ini. Sekelompok anak kecil di kecamatan Wirobrajan memaknai militansi dengan menggunakan peralatan “tempur” seperti batu dan plinteng. Mereka akan menyerang lawanya dengan alat-alat yang sudah disiapkan. Namun sekelompok anak-anak dari Moyudan melihat kesebelasannya bertanding dengan bersepeda onthel. Ketika mereka menemui kesulitan dan ketakutan dijalan kemudian menyelesaikanya dengan mencopot atribut dan pulang ke rumahnya dengan bertelanjang dada.

Sayangnya saya tidak mencoba “memotret” kedua kelompok anak-anak ini menjadi lebih dalam, lebih in depth. Saya hanya melihat permukaan saja. Namun bagi saya, ini merupakan kecenderungan, proyeksi sebuah sikap militansi dengan gaya masing-masing. Ini sangat dipengaruhi dengan style masing-masing kelompok supporter dalam mensikapi dan mendukung kesebelasan masing-masing. Pengurus Slemania, menurutku masih bisa mengendalikan anggotanya yang berjumlah ribuan. Sehingga bagi Slemania, menonton sepak bola merupakan sebuah tontonan murni. Konflik, saling lempar dengan supporter tamu jarang bahkan tidak terjadi di stadion Maguwoharjo. Secara otomatis, hal inilah yang juga ikut andil “mendidik” slemania menjadi supporter yang tidak paham situasi dan kondisi.

Saya pernah menolong seorang Slemania yang dihajar oleh sekelompok supporter Brajamusti di ring road utara, saya coba korek informasinya. “Kenopo koe lewat mbarengi rombongan Brajamusti”, tanyaku. Jawabnya amat singkat, “kulo niki mboten ngerti nek Brajamusti niku mungsuhi Slemania”. Kejadiannya tahun 2009, masih sangat fresh, belum ada setahun. Bagiku ini sangat fatal, seseorang tidak mengetahui situasi dan kondisi. Bagi dia (korban pemukulan tersebut) seluruh supporter sepakbola dianggap sama seperti Slemania. Anti anarki dan supporter sopan.

***

Dua kasus kelompok anak-anak tadi mencerminkan kondisi masing-masing kelompok supporter, namun demikian inilah salah satu contoh militansi yang berhasil ditunjukkan, tentu dengan cara dan gaya masing-masing. Saya yakin bahwa anak-anak ini tidaklah mendapatkan “pendidikan” dari masing-masing orang tuanya. Mereka hanya melihat lingkungannya, melihat perilaku masing-masing orang dewasa disekitarnya. Anak-anak itu sendirilah yang akan melakukan apapun seperti yang mereka lihat dengan mata mereka sendiri.

Saya salut, meski sekelompok anak-anak ini telah menunjukkan militansi untuk kesebelasan masing-masing, sesungguhnya anak-anak ini juga merupakan korban. Setiap konflik, perkelahian bahkan perang anak-anak merupakan korban yang sesungguhnya. Dalam hal ini, anak-anak di Wirobrajan telah belajar untuk berbuat kekerasan. Bibit-bibit permusuhan dan kekerasan telah tertanam di otak bawah sadarnya. Sedangkan anak-anak dari Moyudan telah melihat kekerasan didepan matanya sehingga rasa trauma itu akan terus terbayang diotaknya hingga besar nantinya.

Kemudian, apakah yang akan kalian cari dalam persetruan kedua kelompok suporter ini? Bagiku militansi tidak identik dengan kekerasan, militansi bukanlah ajang balas dendam. Namun kalau memang kekerasan jalan akhir dari perseturan ini, saya siap ada dibarisan paling depan.

Sejarah Konflik Pasoepati vs Brajamusti



 



Di Eropa, sepakbola sudah menjadi industri yang sangat menguntungkan. Klub-klub sepakbola Eropa seperti Juventus, Manchester United, Real Madrid, dan lain-lain sudah menjadikan olahraga ini sebagai ladang uang yang sangat menguntungkan. Salah satu faktor paling penting di sepakbola Eropa adalah suporternya. Klub sepakbola Eropa bisa mendapatkan keuntungan dari penjualan tiket dan seragam klub oleh para suporternya.
Berbanding terbalik di Indonesia, suporter di Indonesia justru di vonis memperburuk citra sepakbola dan dianggap problem bangsa. Tindak kekerasan, kerusuhan, dan jatuhnya korban baik luka dan tewas merupakan citra buruk yang melekat pada suporter sepakbola Indinesia.
Hadirnya kelompok suporter atraktif yang dirintis oleh Aremania (PS Arema) dan kemudian Pasoepati (Solo) yang juga menularkan ke daerah-daerah lain di Indonesia seperti Sleman (Slemania), Jakcmania (Jakarta), Macz Man (Makassar),dll menjadi fenomena baru bagi industri perkembangan suporter Indonesia.
Yang menarik di Indonesia ada seperti sebuah pengkotak-kotakan suporter. Blok pertama di wakili dengan Aremania, Pasoepati, The Jak. Sedangkan Blok lainnya adalah Bonek, Viking, Sakeramania. Suka atau tidak memang demikianlah sebenarnya peta persuporteran Indonesia dan ini membuat setidaknya stagnasi dalam persepakbolaan kita. Misalnya Bonek bertandang ke Jogja, maka secara Geografis dia akan melewati Solo yang notabene merupakan “kongsi” Aremania dan The Jak yang secara tidak langsung potensi kerusuhan ada.Lalu bagaimana dengan Brajamusti (Jogja) dengan Pasoepati (Solo)? Peristiwa memerahkan mandala krida yang berbuntut hancurnya mobil-mobil yang ber Plat AD dan juga kerusuhan ketika PSIM bertanding di Manahan membuat hubungan kedua organisasi suporter yang sebenarnya punya keterikatan budaya ini menjadi tidak akur. Ada saling dendam yang sampai sekarang belum terdamaikan.Berangkat dari permusuhan Brajamusti (Jogja) dan Pasoepati (Solo) yang seharusnya bersaudara karena keterikatan budaya ini membuat peneliti ingin melakukan kajian akademis tentang konflik dan steoritipe multikultur kedua suporter tersebut.